Bang Jack mengatakan, aksi pembagian daging kurban itu sudah dilakukan sejak 2013. Awalnya, penggunaan daun jati untuk membungkus daging kurban itu memang terkesan sulit. Namun, setelah dilakukan, penggunaan daun untuk membungkus daging justru lebih mudah, juga murah.
“Awalnya memang kita bingung mengikatnya pakai apa. Namun, kami akhirnya pakai tali bambu untuk mengikatnya. Semuanya kan terurai di tanah. Jadi, insyaallah, tak mengotori alam,” kata Bang Jack.
Bang Jack mengatakan, daging kurban yang sudah dibungkus daun jati itu dibagikan kepada warga sekitar dan anak asuh di luar pesantren. Warga yang mendapat daging kurban juga disebut merespons dengan baik aksi ramah lingkungan itu.
“Kami juga sudah mengirim undangan kepada penerima agar tidak membawa plastik. Itu juga sebagai bentuk edukasi untuk mengurangi penggunaan plastik,” kata Bang Jack.
Salah seorang warga yang mendapat daging kurban, Iis (51 tahun), mengaku berterima kasih kepada Ponpes Laskar Langit. Apalagi, daging yang diberikan dibungkus dengan daun jati. “Kami juga diminta agar tak membawa plastik di undangan. Bagus, jadi tidak mengotori lingkungan,” ujar Iis.
Berdasarkan pantauan Republika, warga yang datang untuk mengambil daging kurban itu membawa wadahnya masing-masing. Tak terlihat ada yang membawa kantong keresek. Beberapa warga membawa wadah berupa tas kain.
Ada juga yang membawa baskom, bahkan wadah rice cooker. “Harapannya dengan aksi ini bisa menginspirasi banyak pihak. Minimal setahun sekali saat kurban bisa melakukan seperti ini. Ketika dilakukan secara masif, insyaallah, kita bisa melestarikan alam,” kata Bang Jack.